Kisah ini kutulis mulai 27 april 2009 ( sehari setelah kepergiannya ke Jember), merupakan sebuah catatan kecil yang selalu kurenungi sebagai kenangan cinta yang selama 4 tahun silam telah kujalani. Dengan harapan akan berakhir dengan sebuah kisah kebahagiaan yang abadi...Amiiin!


STAGE 1: Ku Temukan Harapan...

Sekitar empat tahun yang lalu, aku merasakan kekosongan hati, tidak terlekat rasa cinta untuk seseorang yang spesial saat itu kecuali keluarga dan orang-orang terdekatku. Tahu kenapa? Karena aku baru mengalami kegagalan cinta " Kata Rhoma Irama ". Akan tetapi kekosongan itu tidak betah berjalan lama karena dalam waktu yang dekat aku bertemu dengan seorang perempuan yang searah dengan imipianku , aku idamkan, dan aku harapkan selama ini.

YULI FATIMAH AZ-ZAHRA', dari sesosok perempaun inilah kisah kenangan cinta ini kumulai, dia terlahir di Banyuwangi 23 tahun yang lalu, dengan segala kesantunannya, kebaikannaya, kesederhanaannya, serta dengan apapun adanya dia, akhirnya aku berani meyakinkan diriku kalau aku suka padanya. Dengan bekal itulah saat hatiku sedang merasa hampa, aku ingin mengenalnya lebih jauh agar kembali terlahir lagi cinta dalam hatiku.

Bersamaan dengan berjalannya waktu, bersama itu pula aku menyapanya, memperhatikan tiap gerak-gerik langkah kakinya, tatapan matanya, senyum manisnya dan apapun semua yang melekat pada pribadinya. hingga aku kembali yakin dan percaya bahwa aku telah menemukan harapan baru dalam dirinya.

Aku ingin menggapainya...
Aku ingin meraihnya...
Aku ingin memilikinya...

Hikmah: " Jika kita ingin mewujudkan sebuah mimpi, bukan dengan tidur lalu berharap bertemu mimpi itu lagi. Tapi, bangun dan kejarlah mimpi itu sampai tanganmu benar-benar bisa menggenggamnya ". (al-Burhani)


STAGE 2: Harapanku Terjawab...

Aku ingin sekali berjuang untuk segala harapanku, termasuk harapanku kepadanya.
Namun, ada banyak sekali hal yang harus dipertimbangkan sebelum aku melangkah jauh untuk lebih dekat dengannya.
Dia berasal dari keluarga besar guruku, keluarga yang sangat selalu memegang teguh prinsip-prinsip agamanya dan yang paling kukhawatirkan adalah masih kentalnya adat perjodohan dalam keluarga besar seperti itu.

Namun, walaupun seperti itu adanya aku ingin tetap mencobanya karena aku percaya dalam setiap harapan pasti selalu ada jalan . Aku mengawalinya dengan sebuah perkenalan biasa walaupun hanya lewat SMS atau telpon. Aku mulai mengujinya tentang masalah memahami hidup, cita-cita, harapan, keluarga, perjuangan, saling menghormati dan menghargai, ilmu, cinta dan lain sebagainya. Pagi, siang, sore, malam, tiap saat hampir kuhabiskan untuknya. HeHeHe...hingga kadang kita sama-sama sampai lupa waktu.

Setelah sekian lama aku menguji akhirnya HARAPANKU TERJAWAB_Hidupmu adalah hidup yang aku cari, cita-cita dan harapanmu adalah arah dimana aku ingin berjalan, keluargamu adalah tempat dimana aku ingin tinggal, ilmumu adalah suasana dimana akau ingin belajar dan cinta dihatimu adalah ruang dimana aku ingin bersemayam. Maka, harapanku saat itu adalah aku ingin mencari, berjalan, tinggal, belajar dan bersemayam bersamamu dengan apapun adanya dirimu.

Dari perkenalan selama itu lahirlah keyakinanku untuk bisa menggapaimu, meraih hatimu, memiliki dirimu seutuhnya, menjalani hidup dengan cinta dan kasih sayang bersamamu selamanya.

Hikmah: " Dalam setiap harapan terlahirlah banyak jalan, jangan hanya dilihat tapi pilihlah jalan itu dan bergeraklah dengan penuh keyakinan karena setelah bergerak, jalan itulah yang nanti akan menuntunmu ". (al-Burhani)


STAGE 3: I LOVE YOU...Kamu bukan pacarku...

Ibarat sebuah anak panah, saat cinta melesat dari satu hati menuju hati yang lain_ia akan menancap dangan kuat dan sangat sakit bila dilepas. Saat itu aku sudah punya anak panah yang siap menusuk hatimu kapanpun aku mau menghujamkannya. Tapi aku tak punya daya karena aku belum tahu isi hatimu, apakah masih kosong dan hampa_ataukah sudah terisi penuh oleh anak panah yang lain?

Perlahan aku dekati kembali untuk mendapatkan kepastian jawaban itu, hingga akhirnya aku bisa melihat pintu yang terang dari hatimu untukku. Tanpa pikir panjang namun dengan sepenuh keyakinan kulepaskan anak panahku dari busurnya. Hanya satu yang ada dalam pikiranku kala itu bahwa aku ingin segera membunuhnmu dengan anak panahku hingga kau tak kuasa lagi untuk mencabutnya, karena kau sekarang ada dalam genggamanku dan hanya aku sendiri yang bisa melepas anak panah itu.

I LOVE YOU... Kamu bukan pacarku, bukan kekasihku atau predikat-predikat lain semacam itu. Aku hanya ingin kau selalu ada dihatiku, menjadi bagian dari jiwaku dan selalu bersama dalam hidupku. Akhirnya, aku sangat bahagia karena saat itu kau merelakan hatimu untuk kubunuh.

Puisi pertamaku untukmu:


Hikmah: " Saat ku mengungkapkan cinta, aku berjanji dalam hatiku_Aku akan selalu belajar untuk mencintai dengan segenap hati, menyayangi, memiliki serta menjagamu dan hanya satu yang tidak pernah ingin kupelajari yaitu melupakanmu ". (al-Burhani)

STAGE 4: Ku ungkapkan cinta lewat media...

Saat rasa cinta sedang meliputi kita, kadang ada rasa ingin menyampaikan kebahagiaan itu pada semua orang_agar bisa saling berbagi, bertukar pengalaman dan saling mengambil pelajaran dari kebahagiaan itu. Begitu juga denganku, sekarang aku sedang punya cinta, itu artinya sebuah kebahagiaan besar sedang menyelimutiku. Aku ingin berbagiiiiiii......! tapi sayangnya aku tidak punya cara_aku hanya punya sebuah puisi:

Kata Cinta Buat " FaZa " ( Fatimah Az-Zahra' )

Bahwa jiwaku telah mengetahui jiwamu
Tatapan mataku bukan karena kasihan
Inilah pancaran hatiku yang sebenarnya
Ingin selalu kuabadikan
Dalam tiap kepingan kecil hatiku
Jiwaku tak punya batas lagi
Karena telah mengalir
Mengisi ruangmu
Kupahami bahasa bibirmu
Untuk kehidupan yang kuinginkan
Mengikat hati menjadi satu
Dengan kata cinta yang ku cipta
Buatmu " FaZa "
Dan asaku hanya satu
Bahagia bersama selamanya...

Aku sangat puas dengan puisi ini, karena dengan kesunguhanku saat membuatnya akhirnya termuat disebuah tabloid remaja ' TREN ' Edisi 148 Nopember 2005 (buat TREN makasih banyak telah mengntarkan keinginanku).
Sayaaang....
Aku hanya bisa membuktikan pada semua orang dengan puisi ini, bahwa aku sungguh-sungguh mencintaimu.

Hikmah: " Ketika hati kita sudah sampai pada sebuah kesungguhan, maka tidak ada hasil dari kesungguhan itu kecuali kebahagiaan yang tak ternilai ". (al-Burhani)

Bersambung...!STAGE 5: Penilaian Orang lain...
Posted by Burhan Ali Setiawan, S.H.I Labels: